Tampilkan postingan dengan label Catatan Sokanindya Pratiwi Wening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Sokanindya Pratiwi Wening. Tampilkan semua postingan

~ bonani pasogit ~

Rabu, 28 Agustus 2013

tano batak
bona pasogit
tao toba dari mata angin yang beda

perawan memetik gitar
lagu pujian bagi berkah
kemurahan alam

~ tersungkur aku ~

senja , hujan

titisnya perlahan
menggerus salut luka,
amarah merah dan kesakitan

~ ha ha ha ~

ini seperti pengulangan luka
meski aku hanya menonton saja
merasakanmu mabuk janda
walah, ha ha ha....

~ kidung kehidupan ~

...dan seketika aku menjadi janda indian apache 
saat bunga belum lagi dimahkotakan di kepalaku 

burung nasar mencuri azimat gigi beruangnya, 
dan kupu-kupu kiowa telah mengambil kulit kepala pengantinku
menjadikannya scalp berumbai emas mahar...! 

~ mudik ~

pulang? 
ya, nak, kita mudik, 
pulang 
bukankah telah sama kita cicil bekal sejak masih di tonggak pertama?! 

kata kata ; kata hati

Minggu, 07 April 2013

pagi ini, bias matahari dari pelepah daun kelapa menelusup lewat jendela, menyapaku di kamarku yang remaja. 

lagi dan lagi aku mengingatmu, mengenangmu tanpa pernah lelah dan jemu. 

setiap kali sapa halusmu menenangkan aku jika aku suntuk tak menentu. membelai lembut poniku. sambil senyummu menyampaikan do'a do'a untuk kebahagiaanku. 


adalah engkau yang tak menuntut apa-apa dariku, adalah cintamu yang tak pernah membunuhku. 

dari sini setiaku menyinari

Rabu, 13 Juni 2012

bulan bulat pucat

membandul di langit tak berdentang di pusaran waktu

aku terpasung meregang tanpa kejora

malam adalah sepi memekat menjerikan




ini bukan malam pertama bulan seperti itu

namun aku terlalu bodoh tak mahir membaca

hanya ingin bertahan

tangguh pada diam malam yang panjang

Sahabatku Cornelius

Sore tadi, aku yang sedang berada di rumah kakakku di Sipirok, diajak untuk melihat kebunnya di desa Pasar Matanggor, kurang lebih 35 km dari rumahnya.

Dari kejauhan mataku sudah tertarik melihat mangkuk-mangkuk pelastik berwarna merah, penampung getah karet, yang berjajar rapi di batang-batang pohon karet. Kudekati untuk melihat isinya.

aku menggugat!

Sabtu, 09 Juni 2012

deru angin di luar memanggilku
pulang ke satu kenangan
kekasihku yang pengasih
terkapar lunglai tak berdaya


tubuh gagahnya
bening jiwanya
kecerdasannya
dirampok, diperkosa, disodomi tanpa ampun
oleh mesin mesin
oleh mesin berwajah nabi

setan mencatat di buku hariannya

lautan nikmat
kecipak riaknya lembut memikat
gelombangnya tenang
mengantar, menghilir ke muara dosa


kesumat melumat
menjilati peluh-peluh khianat
bibir menyembur api
segala seruan menjadi-jadi
"puji tuhan...
aku puas...
di puasku aku lemas!"

sebab percayaku

Rabu, 06 Juni 2012


akhirnya angin pun reda
kesiurnya membelai jiwa

aaaahhh....
puting beliung cuma semasa
tak perlu gulana
karenanya....

Asam Padeh Kepala Ikan

Jumat, 01 Juni 2012

Bahan:
4 kepala ikan kakap/nila bangkok

Bumbu:
150 gram cabe merah
75 gram bawang merah
3 siung bawang putih
seruas jahe
sepotong kunyit (kalau suka)
satu buah kemiri bulat

Bahan lain:
15 buah cabe rawit, buang tangkainya
1 buah tomat besar, iris
2 lembar daun salam
1 lembar daun kunyit, dikoyak atau potong
2 lembar asam potong atau asam kandis
2 batang sereh, memarkan
2 buah jeruk nipis untuk mencuci kepala ikan
5 buah belimbing wuluh, belah dua
2 buah kincung/honje/combrang, belah empat
garam secukupnya

dari ranting cemara

Kamis, 31 Mei 2012


sritiku pulang senja
hinggap di ranting cemara
rampingnya tak lagi memanja

sriti lincahku terpaku di ujung daun
biarkan tubuhnya dibasah embun
suaranya tak kudengar mengalun


tlah kukenakan pakaian paling purba
demi menemu sriti tempatku setia
kupatuk paruhku tajamkan indra

pada suatu masa

ada yang terkapar dipapar nasib 
melunglai sangsai di bawah roda 
bapa tiada ibu terpenjara 
hidup liar mencari cahaya 

tubuh-tubuh lemah berurap semangat 
buku sebiji pinsil tumpul tak beraut 
melangkah menabur debu jalanan 
sandang tak padan 
kasut usang mangap laksana 
mulut cengap cengap

inang pangittubu


jangan tanya padaku, nak
berapa air mataku tumpah buatmu
jangan pula kau tanya aku
bagaimana puting susuku menjelma jiwamu

ini cinta, oh hasianku na lagu
pada cinta tak ada kalkulasi untung rugi
tak dibutuhkan ilmu ekonomi
cintaku ruah melumuri hatimu
tak kuragu, untuk itu aku kehilangan ragaku

pada purnama kita bertemu


hasian,
 ini purnama ke sebelas di sembilan kali bumi mengitari mentari
aku ingin menemu engkau di rembulan itu
mempersembahkan senyum termanisku hanya untukmu
sebab hanya engkau yang pantas menerimanya


hasian,
di rentang yang panjang rinduku diasuh sepi
dekap hangatmu hanya berupa beku angin dingin
renyah tawamu tersaput rintih gerimis
kugapai-gapai hangat cintamu
namun kau pergi jauh tinggalkan aku sendiri
melampai, melanas di bumi yang ganas

Rumah Kita yang Wangi


Ini kisah belasan tahun lampau. Saat itu anak sulungku masih berusia tiga tahun. Aku mengalami kecelakaan yang mengharuskan aku mesti menginap sebulan lebih di rumah sakit dan selanjutnya masih harus menjalani rawat jalan selama berbulan-bulan lagi.

Dengan berbagai pertimbangan dan alasan, sepulangku dari rumah sakit, aku tidak pulang ke rumah, melainkan ke rumah kakak ipar, yang berupa sebuah ruko, di daerah pecinan. Rumah ini dipilih karena inilah rumah terdekat dari rumah sakit. Hal ini akan memudahkan aku untuk menjalani rawat jalan.

Sepucuk Surat Buat Abang

Selasa, 29 Mei 2012


"Bang, pulanglah sebentar ke rumah kita yang wangi. Ada yang ingin Mama sampaikan padamu. Ada yang ingin Mama titipkan untuk kau panggul di bahumu.
Ini tidak akan berat buatmu, Mama yakin, karena selama ini kita telah banyak memikul beban berdua. Kau sudah terlatih.


Ada yang terlambat Mama sadari. Selama ini Mama berpikir bahwa Adek tidak butuh siapa-siapa selain Mama. Rupanya Mama salah! Adek juga butuh dirimu. Bahkan melebihi kebutuhannya akan Mama.

dari dunia kecil

Kamis, 24 Mei 2012


kepada yayi, sang malaikat kecil



yayi,
aku ingin bersamamu menemani
bermalam malam berhari hari
bermalam berhari singgah di duniamu yang berseri
dunia putih tanpa ambisi



pun kuingin mengajakmu menautkan hati
kita melanglang di ceria duniamu
bermain petak umpet di balik awan putih
sambil menghitung satu dua hingga berapa kau suka
membuat istana pasir di pantai swarga berwarna biru

menjemput sunyi


segala musim menghampiri
kering di kala terik, meranggas, melanas
layu terendam pada banjir membadai
perih membatu di dingin salju melumas



derita bukan sekedar cerita
tawa....lama tak singgah di mata
kubang duka mematri
di jejak hitam tak memutih

 
 
 

Ruang Komentar

Bunga Kesayangan

Bunga Kesayangan

Popular Post

 
Copyright © Ruang-ruang Hati